character-building

Character Building – Self Development


LATIHAN SOAL I CB-SELF DEVELOPMENT

SEMESTER GANJIL 2012-2013

 

Kasus

Tahun 1999—tepatnya bulan Juni—saya baru menemukan kehidupan. Padahal, saya hidup sudah sejak 1979. Lalu, ke mana saja selama 20 tahun? Sejak saya SMP kelas 2, ada perubahan besar yang terjadi dalam keluarga. Sejak itu ayah saya menjadi tokoh religius Kristen—sebutannya pendeta. Sejak ayah jadi pendeta, tuntutan mengalir deras setiap hari. Sebagai seorang anak pendeta, saya dibatasi dengan aturan-aturan yang tidak siap diterima oleh seorang remaja. Misalnya, tidak boleh bergaul dengan teman-teman yang brutal, tidak boleh ke bioskop, tidak boleh mendengar lagu dunia—hanya boleh dengar lagu rohani atau lagu gereja. Lama-kelamaan tuntutan itu membuat saya stres, dan saya merasa kebebasan hidup saya terancam.

Narkoba segera menjadi pilihan saya saat itu. Teman-teman bilang itu enak, maka saya mencobanya. Buta terhadap akibatnya, saya menikmati benda terlarang itu. Lama-lama jadi ketagihan. Asyik juga bisa bebas masalah, yah walaupun hanya sesaat. Daripada setiap hari puas dengan omelan ayah di rumah, mendingan saya pesta narkoba dengan teman-teman. Selama tujuh tahun saya asyik dengan dunia baru—surga di dunia—yaitu narkoba.

Badan kurus kering, mata cekung ke dalam, tak satu pun orang akan percaya bahwa anak ini bisa punya masa depan cemerlang. Semua orang meramal saya ”anak tanpa masa depan.” Belum lagi badan kuning semua akibat tertular penyakit hepatitis dari teman, karena kegiatan pinjam meminjam insulin, solidaritas yang tak bertanggung jawab.

Orang memandang dengan pesimis akan hidup saya. Kalau tiga kakak saya dibanggakan karena hidupnya lurus, saya jadi bahan cemoohan orang, setiap hari. Guru saya bilang, “Tidak ada hubungannya masa depan dengan pecandu narkoba. Relon pasti madesu, alias masa depan suram.” Ups! Nyaris saja itu terjadi. Kalau tidak ada anugerah pada malam 3 Juni 1999, tulisan-tulisan saya tidak akan pernah muncul di www.andaluarbiasa.com.

Malam itu, sebenarnya sederhana saja yang terjadi. Saya dan teman-teman sedang berpesta narkoba di Sentul. Lima hari di Sentul, cukup membuat kami puas dan bahagia. Pulangnya saya memeriksa mobil, supaya jangan sampai ada barang bukti yang tertinggal di mobil. Ternyata, ada ecstasy setengah butir yang tertinggal. Saya menelannya tanpa ada perasaan apa pun mengenai ngerinya kematian. Setengah butir ecstasy itu membuat tubuh saya tak karuan. Mata mendelik-delik, lama-lama tinggal putihnya saja yang kelihatan. Sempat paranoid, mulut penuh busa, tinggal sedikit lagi menuju KEMATIAN!

Ternyata, antara hidup dan mati itu bedanya hanya sedikit! Makanya, kalau orang tak menghargai kehidupan, lebih baik….?!? Bukan saya yang menjawab, tetapi Anda lho!

Saya lanjutkan. Malam itu, saya mendapat perpanjangan waktu hidup di dunia. Intinya, peristiwa ini memang supranatural. Saya diberikan kemurahan oleh yang MAHAKUASA untuk melanjutkan kehidupan. Untuk apa? Untuk memperingatkan yang lainnya, sudah siapkah kita menghadap DIA?

Kisah ini telah menginspirasi banyak orang. Maka, muncullah keinginan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Lebih lengkapnya Anda dapat membaca Run or Die (Metanoia, 2008). By the way, apa yang mau saya sampaikan? Kalau saya tidak nyaris mati saat itu, mungkin saya masih berkutat dengan hidup tanpa masa depan. Tetapi, karena sudah nyaris mati—malah seharusnya sudah mati—maka sekarang saya lebih menghargai KEHIDUPAN, dengan menginspirasi banyak orang. Caranya bisa lewat banyak hal, salah satunya melalui tulisan.

Peristiwa diluputkan dari kematian ini yang membuat saya tidak tahan kalau ada orang yang coba-coba pakai narkoba dan merusak hidup mereka. Maka dari itu, saya ikut berpartisipasi memerangi narkoba di muka bumi Indonesia ini. Karena ternyata, saya menemukan banyak sekali orang berpotensi yang gagal menemukan potensinya, lalu lari ke narkoba. Sayang sekali, bukan? Apalagi narkoba identik dengan anak muda. Bagaimana dengan nasib bangsa 10-20 tahun ke depan kalau narkoba lebih berhasil memasarkan kenikmatannya ketimbang kita-kita ini, yang hidupnya sudah sukses? Mau tidak mau, kalau kita ingin memberantas narkoba dari bumi Indonesia, Anda yang tidak terjamah oleh narkoba pun, mari melihat sekitar Anda, dan berikanlah kontribusi Anda pada mereka.

Sumber : “Kisah Mantan Pecandu Narkoba” (www.peace-generation.com) – diambil dari kisah nyata Relon Star di http://www.andaluarbiasa.com

Pertanyaan untuk kasus :

  1. Menurut Anda, sejauh mana Relon berusaha mengenal kebutuhan dirinya sendiri? (30%)
  2. Menurut Anda, sejauh mana Relon berusaha mengenali dirinya sendiri?   (30%)

Essay

  1. Menurut beberapa pandangan tentang kecerdasan, kecerdasan terdiri dari 4 (empat) aspek, sebutkan!                                                                                     (10%)
  2. Sebutkan 5 (lima) aktivitas yang bisa dilakukan dalam membangun persahabatan!  (10%)
  3. Sebutkan 5 (lima) cara yang dapat digunakan untuk mengelola stress!       (10%)
  4. Sebutkan 4 (empat) tahapan dalam proses kreatif!                                      (10%)

—- Selamat Mengerjakan —-

LATIHAN SOAL I CB-SELF DEVELOPMENT

SEMESTER GANJIL 2012-2013

Jawaban :

Pertanyaan untuk kasus :

1. Dalam kehidupan ini terdapat tujuh kebutuhan yang populer yaitu :

  • Kebutuhan prestasi-> untuk mencapai target / menunjukkan kemampuan diri.
  • Kebutuhan afiliasi -> untuk diterima dan menerima orang lain.
  • Kebutuhan berkuasa -> untuk mempengaruhi orang lain.
  • Kebutuhan otonomi -> untuk mendapatkan kebebasan berpikir dan bertindak.
  • Kebutuhan mendapatkan penghargaan  -> merasa diri berharga dan juga dihargai oleh orang lain.
  • Kebutuhan akan jaminan keselamatan -> untuk terlindungi dan merasa aman.
  • Kebutuhan untuk mendapatkan keadilan -> diperlakukan satu sama dengan yang lainnya.

Dari kasus Relon, saya berpendapat bahwa Relon tidak memiliki kebutuhan otonomi karena banyaknya aturan dan larangan dalam hidupnya yang dibuat oleh ayahnya seperti tidak boleh bergaul dengan teman-teman yang brutal, tidak boleh ke bioskop, tidak boleh mendengar lagu dunia—hanya boleh dengar lagu rohani atau lagu gereja. Ayahnya mengambil pola pengasuhan otoriter sehingga anaknya tidak memiliki kebebasan berpikir dan bertindak. Selain itu, Relon juga tidak mempunyai kebutuhan akan jaminan keselamatan sebab ayahnya juga mengambil pola tidak peduli akan anaknya hingga Relon tetap melanjutkan untuk menggunakan narkoba hingga hampir meninggal. Kebutuhan Relon dapat berubah setiap waktu sesuai dengan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sehingga pada akhirnya Relon mempunyai kebutuhan berkuasa untuk mempengaruhi orang lain seperti mensharingkan kepada orang lain untuk memberantas dan memerangi narkoba agar pemuda-pemudi bangsa Indonesia terbebas dari narkoba. Relon pun juga mempunyai kebutuhan mendapatkan penghargaan, dia mulai menyadari bahwa hidup itu harus dihargai apalagi jiwa yang merupakan inti dari dimensi “Sang Aku”. Pada akhirnya, dia mendapat kebutuhan akan jaminan keselamatan yaitu selamat dari kematian hingga dia bisa melanjutkan kehidupan.

2. Setiap orang pasti mengenali dirinya sendiri. Ada empat cara mengenali diri yaitu analisa diri, melalui pengamatan orang lain, ada bersama orang lain, variasi pengalaman hidup. Relon mengenali dirinya sendiri dengan cara variasi hidup seperti pengalaman menggunakan narkoba, pengalaman tentang hampir meninggal karena narkoba, dan dari pengalaman itu dia belajar bahwa hidup itu harus dihargai. Melalui pengamatan orang lain, dia mengenal dirinya sebagai bahan cemoohan orang , sebagai orang yang pesimis, cepat putus asa, hingga dibilang masa depan dia suram. Kesadaran diri Relon akhirnya muncul ketika masih hidup setelah peristiwa di Sentul. Itulah awal dari pengenalan diri Relon akan berharganya kehidupan dan kemudian memilih menjadi diri sendiri yang merupakan suatu hal yang penting dalam mengoptimalkan diri.

Essay

3.  Menurut beberapa pandangan tentang kecerdasan, kecerdasan terdiri dari empat aspek :

  1. 1.      Academic Intelligence.

Pada zaman sekarang, beberapa psikotes IQ mengukur beberapa kemampuan berpikir, misalnya :

–          Verbal comprehension èkemampuan memahami makna dari kata-kata dan untuk memahami informasi yang tertulis maupun terucap.

–          Word fluency -> kemampuan menggunakan kata dengan cepat dan mudah.

–          Numeral acuity -> kemampuan mengitung arithmetic dan menganalisa matematis.

–          Spatial perception -> kemampuan membayangkan ruang dan mengatur objek secara mental.

–          Memory -> kemampuan mengingat simbol, kata, angka.

–          Perceptual speed -> kemampuan menangkap visualisasi, menemukan persamaan dan perbedaan.

–          Inductive reasoning -> kemampuan menemukan hukum/prinsip dan mengaplikasikan untuk mengatasi masalah.

  1. 2.      Practical Intelligence.

Dalam teori ini kecerdasan terbagi tiga tipe :

–          Analytical Intelligence -> kecerdasan berpikir dan menganalitis.

–          Creative Intelligence -> berimajinasi / berpikir bebas.

–          Practical Intelligence -> kecerdasan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

  1. 3.      Multiple Intelligence.

Gardner mengidentifikasikan tujuh MI yaitu :

–          Linguistic -> membuat orang berkomunikasi.

–          Logical Mathematical -> membuat orang bisa mengatasi masalah dan melihat hubungan antar objek.

–          Musical -> kemampuan untuk menciptakan, memahami makna suara dan menikmati berbagai musik.

–          Spatial -> membuat orang mampu menerima dan memanipulasi images dalam pikiran, contohnya design grafis.

–          Bodily Kinestetic -> menampilkan emosi lewat ekspresi wajah, gerakan tubuh seperti menari.

–          Interpersonal -> bisa membedakan perasaan dan memiliki pengetahuan diri yang akurat.

–          Intrapersonal -> bisa mengenali dan menyadari perbedaan antara rasa, modif, dan maksud orang lain, misalnya mengatur dan memimpin orang lain.

–          Naturalist -> membedakan, mengklasifikasikan , memanfaatkan hal yang ada pada lingkungan fisik.

  1. 4.      Emotional Intelligence.

Ada 5 wilayah utama menurut Salovey dan Mayer :

  • Mengenali emosi diri -> Self-Awareness.
  • Mengelola emosi -> Self-Regulation.
  • Memotivasi diri sendiri -> Self-motivation.
  • Mengenali emosi orang lain -> Empathy.
  • Membina hubungan -> Handling relationships.

4. Lima aktivitas yang bisa dilakukan dalam membangun persahabatan :

  1. Membangun kebersamaan.

Seorang sahabat adalah mitra untuk mengerjakan sesuatu dan menghabiskan waktu bersama.

  1. Berbagi informasi.

Dalam kebersamaan dengan sahabat terjadi pertukaran informasi yang cukup luas.

  1. Saling mendukung dan umpan balik.

Saling memberi umpan balik antara satu dengan yang lainnya terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja.

  1. Tempat bersosialisasi.

Sahabat bisa menjadi tempat berbagi beban dan kegembiraan. Ini terjadi karena adanya sikap saling percaya yang tumbuh sedemikian rupa.

  1. Menjalin keakraban.

Persahabatan menjadi bagian tersendiri dari kebersamaan hidup bersama dengan orang lain. Adanya sikap saling percaya menambah kekuatan untuk saling terbuka.

5. Lima cara yang dapat digunakan untuk mengelola stress :

  1. Jauhkan diri anda dari situasi yang menekan. Berilah diri anda kesempatan untuk beristirahat sejenak setiap hari.
  2. Tidur secukupnya. Kurang tidur hanya akan memperburuk stress.
  3. Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele. Cobalah untuk memprioritaskan beberapa hal yang benar-benar penting dan biarkan yang lainnya mengikuti.
  4. Belajarlah cara terbaik untuk merelaksasikan diri anda. Meditasi dan latihan pernafasan terbukti efektif dalam penanganan stress. Berlatihlah untuk menjernihkan pikiran anda dari pikiran-pikiran yang terganggu.
  5. Jangan membebani diri anda secara berlebihan. Tangani setiap permasalahan sebagaimana mestinya atau tangani secara selektif dengan memperhatikan beberapa prioritas.

6. Empat tahapan dalam proses kreatif :

  1. 1.      Persiapan

Pada masa persiapan ini, tahap yang bisa terlihat adalah bagaimana suatu masalah diformulasikan dengan baik dan merancang usaha awal untuk memecahkannya.

  1. 2.      Masa inkubasi

Pada tahap ini disebut sebagai masa pengendapan dimana tidak dilakukan usaha yang secara langsung berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Perhatian dialihkan pada hal-hal lain. Contohnya, ketika kita mempunyai tugas yang banyak, kita pasti akan melakukan refreshing misalnya berolahraga untuk menghilangkan stress. Ini bisa menjadi tujuan untuk menimbulkan ide-ide baru.

  1. 3.      Masa iluminasi / pencerahan

Dalam masa ini diperoleh insight baru dari masalah yang dihadapi. Dirasakan sensasi yang luar biasa akibat munculnya ide-ide baru dan pemahaman yang meningkat.

  1. 4.      Masa verifikasi

Dalam tahap ini diadakan verifikasi untuk memastikan ide atau insight tersebut mempunyai hubungan erat dengan masalah yang sedang dihadapi.

3 thoughts on “Character Building – Self Development

  1. I discovered your “Character Building &” page and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a website is making sure the visitors you are getting are interested in your subject matter. There is a company that you can get traffic from and they let you try it for free. I managed to get over 300 targetted visitors to day to my website. Check it out here: http://nsru.net/lpti

  2. Do you need unlimited articles for your blog ?
    I am sure you spend a lot of time writing content, but you can save it for other tasks, just search in google: kelombur’s favorite tool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s