Character Building – Self Awareness


Character Building : Self Development 

Dimensi ‘Sang Aku’ 

Secara umum, ada 4 dimensi yaitu body, mind, heart, and soul.

Ada 2 pemahaman dalam dimensi yaitu :

1. Pemahaman dualism (Plato dan Descartes) yang menganggap tubuh dan jiwa terpisah

2. Pemahaman monoism (Aristoteles) yang menggambar dimensi ‘Sang Aku’ dengan perumpamaan pisau. Andai pisau

memiliki jiwa maka kegiatan memotongnya merupakan bagian dari jiwanya.

Menurut Stephen R.Covey , 4 dimensi itu adalah hidup, kasih sayang, belajar, bernilai.

___________________________________________________________________________________________

I. Tubuh ‘Sang Aku’

Tiga hal yang dapat dilakukan dalam mengolah tubuh menjadi pelayan yang baik (the 8th habit,2005 : 496) :

1. Nutrisi yang baik dan seimbang.

2. Olahraga yang seimbang dan teratur

3. Istirahat yang cukup, management stress, relaksasi, pola pikir prevent.


II. Pola Pikir ‘Sang Aku’ 

Collin Rose dalam bukunya Accelerated Learning For The 21th Century  memperkenalkan rencana M-A-S-T-E-R  

1. Motivating your mind

Buat pikiran selalu dalam keadaan siap untuk belajar yaitu keadaan relax, confidence, dan motivation

2. Acquiring the information

Kita perlu mereparasi atau melakukan servis secara berkala mesin belajar ‘Sang Aku’ dengan menyulukan kembali gairah anak kecil, yang selalu bertanya, mencari, dan mencoba

3. Searching out the meaning

Proses belajar dimulai, kita menyelidiki implikasi dan makna dari sebuah informasi, Jika terjadi, informasi akan menetap di memori.

4. Trigering the memory

Kita perlu memastikan informasi penting berada dalam jangka panjang sehingga siap digunakan ketika dibutuhkan.

5. Exhibing what you know

Uji tiap informasi dengan mempraktikkan langsung dalam pengalaman / biasakan untuk mempresentasikan atau sharing informasi yang kita peroleh kepada lingkungan sekitar.

6. Reflecting how you have learned

Renungkan : Bagaimana pembelajaran berlangsung? Bagaimana pembelajaran dapat berjalan dengan baik? Apa makna pentingnya buat saya

Keenam langkah ini membantu kita mengalami proses belajar, menggerakkan kembali mesin berpikir ‘Sang Aku’.


III. Perasaan ‘Sang Aku’ 

Perasaan ini dapat dikelola dan ditemukan pertama kali oleh Leuner (1966) bahwa pengelolaan emosi ini ini bergantung pada kemampuan disebut Emotional Intelligence. nama Emotional Intelligence baru belakangan ditemukan dan dipublikasikan oleh Wayne Payne’s pada tahun 1985. Tahun 1989, Greenan membuat model EI yang diperbaharui Salovey dan Meyer(1990) dan Goleman(1995). Lima cara mengembangkan Emotional Intelligence : kesadaran diri, motivasi pribadi, Pengaturan diri sendiri, empati, kemampuan bersosialisasi.


IV. Jiwa ‘Sang Aku’ 

Dalam mengembangkan jiwa, Covey memperkenalkan ada tiga hal yang dapat dilakukan :

1. Integritas

Seseorang disebut berintegritas jika sikapnya mencerminkan nilai, keyakinan, dan hati nuraninya.

2. Makna

Apa yang membuat ‘Sang Aku’ ada adalah saat bermakna dalam keberadaanya. Begitulah jiwa dapat terasa.

3. Suara hati

Melalui suara hati, jiwa dapat berekspresi melebihi rasionalitas. Kebesaran jiwa dapat terekspresikan dalam suara hati yang memang tak terbatas penggunaannya asalkan termanfaat dengan optimal. Ada 2 alasan jiwa menjadi tuan ‘Sang Aku’ :  jiwa adalah esensi dari ‘Sang Aku’, jiwa tak dapat musnah baik pembusukan maupun peniadaan.


Sumber :

Buku CB : Self Development (CB 412)

Bina Nusantara University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s