Character Building – Identifying My Potentials


A. Kecerdasan ( Intelligence)

Kecerdasan adalah kemampuan untuk mengumpulkan dan menerapkan pengetahuan termasuk untuk mengatasi masalah. Ada 4 aspek pandangan tentang kecerdasan :

1. Academic Intelligence 

Pada akhir abad ke-19, teori kecerdasan dikembangkan oleh Sir Francis Galton dengan hanya melihat pada kemampuan  akademik saja seperti kemampuan berhitung, daya bayang ruang, kemampuan membaca. Sekarang ini psikotes IQ mengukur beberapa kemampuan berpikir yang berbeda, misalnya :

– Verbal comprehension : memahami makna dari kata-kata dan saling keterkaitannya, memahami informasi yang tertulis maupun terucap.

– Word fluency : menggunakan kata dengan cepat dan mudah.

– Numerical acuity : mengatasi masalah yang berhubungan dengan angka.

– Spatial perception : membayangkan ruang dan mengatur objek secara spatial.

– Memory : mengingat simbol, kata, sejumlah angka.

– Perceptual speed : menangkap visualisasi dengan mendetail, menemukan persamaan maupun perbedaan, melakukan hal yang berhubungan dengan persepsi visual

– Inductive reasoning : menemukan sebuah hukum atau prinsip dan mengaplikasikannya untuk mengatasi masalah dan membuat pernilaian dan keputusan yang logis.

2. Practical Intelligence / Street Smart

Contoh dari practical intelligence : pengetahuan tentang cara memasak nasi goreng yang membuat kita gampang memasak nasi goreng yang sesuai dengan selera kita.

Teori Triarchic Intelligence ada tiga tipe :

– Analytical Intelligence :  kecerdasan berpikir atau kecerdasan analitis.

– Creative Intelligence : kecerdasan berimajinasi / berkehendak bebas.

– Practical Intelligence : kecerdasan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sesuai dengan kebutuhan kita.

3. Multiple Intelligence

CB4120020120125040Test-kecerdasan-howard gardner

Konsep ini dikembangkan oleh Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind (1983). Gardner mengidentifikasikan tujuh “autonomous capacity” yang dinamakan multiple intelligence yaitu :

– Linguistic : membuat orang bisa berkomunikasi lewat bahasa, termasuk membaca, menulis, berbicara.

– Logical-mathematical : membuat orang bisa melihat hubungan antaraobjek dan mengatasi masalah, misalnya kalkulus atau statistik.

– Musical :  kemampuan menciptakan dan memahami makna suara-suara dan menikmati berbagai jenis musik.

– Spatial : kemampuan menerima dan memanipulasi “images” dalam pikiran dan me-recreatenya dari ingatan, misalnya membuat desain grafis.

– Bodily-kinesthetic : kemampuan menggunakan badan dan persepsi dan sistem monorik secara terampil, seperti olahraga, menampilkan emosi lewat ekspresi wajah.

– Interpersonal : membuat orang bisa  membedakan perasaan mereka dan memiliki pengetahuan tentang diri yang akurat.

– Intrapersonal : membuat orang bisa mengenali dan menyadari perbedaan antara rasa, motif, dan maksud orang lain, misalnya untuk mengatur dan memimpin orang lain.

4. Emotional Intelligence

Konsep Emotional Intelligence menjadi semakin populer dengan diterbitkannya buku Emotional Intelligence : Why It Can Matter More Than IQ (1996) dari Daniel Goleman. Sebenarnya teori tentang Emotional Intelligence sudah diidentifikasikan sejak tahun 1920 oleh E.L.Thorndike dengan konsep ” Sosial Intelligence”. Konsep ini lalu diteruskan oleh Salovey dan Mayer pada tahun 1997.

teori Emotional Intelligence menjadi 5 wilayah utama :

  1. Mengelola emosi diri -> Self-awareness.
  2. Mengelola emosi -> Self-regulation.
  3. Memotivasi diri sendiri -> Self-Motivation.
  4. Mengenali emosi orang lain -> Empathy.
  5. Membina hubungan -> Handling relationships.

Dalam beberapa referensi, ada yang menggolongkan kecerdasan emosional menjadi 4 faktor :

  1. Self-awareness.
  2. Self-regulation.
  3. Social-awareness.
  4. Relationship management.
  • Mengapa Emotional Intelligence dianggap penting? 

Penelitian tentang pentingnya Emotional Intelligence dimulai oleh Daniel Goleman.  Ada 5 faktor :

1. Seandainya kita kurang memiliki self-awareness atau kurang memahami berbagai emosi yang sedang kita rasakan.

Mungkin ada hal yang mebuat kita marah, membuat kita sedih, tapi kita tak pernah mau memikirkannya. Tiba-tiba kita merasa sesak tanpa tahu apa penyebabnya. Kita tak akan bisa mengatasi rasa sesak itu. Hal seperti ini bisa berakibat menjadi depresi.

2. Orang yang kurang memiliki self-regulation, kemungkinan setiap kali mengalami emosi yang kuat.

Contohnya, menangis seperti anak kecil yang belum terlatih dalam self-regulation. Lebih lanjut lagi, setiap kali menghadapi masalah dan butuh self-regulation. Cara mengatasi masalah adalah dengan bertindak seenaknya, tanpa mempertimbangkan resiko-resiko yang akan terjadi.

3. Kalau kita kurang tahu meningkatkan self-motivation, kita akan menjadi orang yang selalu berputus asa atau tidak bisa berpikir untuk mencari jalan keluar. Bisa jadi selalu berharap dibantu orang lain. Padahal belum tentu selalu ada orang yang bisa membantu kita.

4. Orang yang kurang memiliki empati, sering bertindak egois. Pasti akan dijauhi oleh orang-orang di  sekitarnya karena cenderung bersifat menyakiti orang lain.

5. Kemampuan untuk membina hubungan baik dengan orang lain. 

Dengan memiliki kemampuan untuk membina hubungan baik dengan orang lain akan membuat kita dapat memiliki orang-orang yang menjadi penolong maupun pendukung kesuksesan kita.

  • Cara meningkatkan kecerdasan emosional :

1. Meningkatkan “Self-awareness” dengan cara :

– introspeksi diri.

-membuat jurnal.

– curhat.

-Membaca kisah yang mengungkapkan emosi yang dirasakan oleh tokoh.

– Nonton untuk mengenali berbagai emosi yang dirasakan oleh tokoh yang ada dalam film.

2. Meningkatkan “Self-management” dengan cara :

– Mula-mula kita butuh dididik dengan disiplin oleh lingkungan kita.

– Kedisiplinan membuat kita memiliki “kebebasan”.

– Kebiasaan ditambah dengan terus mendapat penamaan norma dan nilai akan menghasilkan adanya hati nurani.

3.Meningkatkan “Social-awareness” dengan cara :

– Perhatikan bahasa tubuh orang lain

Ketika kita mendekatinya apakah ia mendekat atau menjauh? 

jika mendekat berarti orang tersebut menerima kita

selain itu, mungkin ia belum mempercayai kita.

Melihat dengan tajam : Apakah ia ingin menyampaikan sesuatu?

Tidak mau kontak mata : Apakah ia ingin menutupi sesuatu?

– Meningkatkan kemampuan membaca emosi, berlatilah menggunakan cermin.

4. Meningkatkan keterampilan dalamberhubungan dengan orang lain dengan cara :

– Pelatihan interpersonal skills seperti keterampilan komunikasi, keterampilan memimpin.

– Semakin kita mengenal seseorang, semakin kita tahu cara terbaik untuk berhubungan dengannya.

– Mengembangkan hati nurani yang jujur, bisa diandalkan, tulus, berkomitmen.

B. Kepribadian (Personality)

Ada 2 konsep :

1. Konsep kepribadian Trait

Trait dikemukakan oleh Goldon Allport.  Kepribadian dasar manusia diwakili oleh 5 faktor (OCEAN) yang dikenal dengan nama Five Factor Model ( Big Five Personality) yaitu :

Openness

Kecenderungan menyukai atau menjauhi hal-hal baru atau pertualangan, imajinasi, memiliki keinginantahuan, dan mencoba pengalaman yang beragam.

Conscientiousness

Kecenderungan menyukai atau menjauhi seld-discipline, bertindak sesaui dengan aturan, atau membuat perencanaan.

Extroversion

Kecenderungan menyukai atau menjauhi keinginan untuk mempengaruhi orang lain, mencariorang lain, mencari energi / semangat.

Agreeableness

Kecenderungan menyukai atau menjauhi penyamaan pendapat dengan orang lain, kemauan untuk bekerja sama, dan bersikap menerima pendapat orang lain.

Neuroticism

kecenderungan mudah merasakan atau kurang merasakan hal-hal / emosi yang kurang menyenangkan seperti marah, cemas, sedih, dan mudah tersinggung.

2. Konsep kepribadian Types 

Types mula-mula dikembangkan oleh psikolog C.G.Jung, lalu dibuat alat ukur yang cukup mudah dan sering dipakai untuk menggambarkan perilaku-perilaku seseorang dalam dunia kerja. Konsep kepribadian types ini dikembangkan oleh Myers-Briggs dan tes yang mereka buat dikenal dengan nama MBTI.

Konsep Jung membagi 4 dimensi psikologis dari types yang merupakan 2 dimensi yang saling berlawana yaitu :

1. Introverted versus Extraverted.

Introverted : memiliki orientasi pada perasaan dan ide-ide yang ada dalam dirinya.

Extroverts : berorientasi mengubah hal-hal yang berada di luar dirinya.

2. Thinking versus Feeling.

Thinking : membuat keputusan berdasarkan pada fakta-fakta dan hal-hal yang masuk akal / objektif.

Feeling : membuat keputusan berdasarkan informasi yang subjektif atau lebih dipengaruhi rasa terhadap hal tersebut.

3. Sensing versus Intuiting.

Sensing : Cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal yang detail atau bagian kecil

Intuitive : Lebih focus pada masalah besar.

4. Judging versus Perceiving.

Judging : cenderung membuat perencanaan dan akan berperilaku pada perencanaan.

Perceiving : cenderung bertindak spontan ketika menghadapi permasalahan.

C. Kebutuhan (Needs)

1. Kebutuhan prestasi (need for achievement) -> mencapai target tertentu / menunjukkan kemampuan diri.

2. Kebutuhan afiliasi (need for affiliation) -> diterima dan menerima orang lain / bersahabat.

3. Kebutuhan berkuasa (need for power) ->mempengaruhi orang lain.

4. Kebutuhan otonomi (need for autonomy) ->mendapatkan kebebasan berpikir dan bertindak.

5. Kebutuhan mendapatkan penghargaan (need for esteem) ->merasa diri berharga dan juga dihargai oleh orang lain.

6. Kebutuhan akan jaminan keselamatan (need for security and safety) ->terlindungi dan merasa aman.

7. Kebutuhan untuk mendapatkankeadilan (need for equity) -> diperlakukan sama satu dengan yang lainnya.

D. Nilai-nilai (Values)

Istilah values dalam topik ini mengacu pada keyakinan atau hal-hal yang kita anggap utama atau penting. Bedanya dengan needs, bila kita mengabaikan keyakinan kita tersebut, kita akan merasa bersalah. Biasanya dihubungkan dengan etika. Etika adalah pilihan moral yang dilakukan seseorang berdasarkan pertimbangan dari nilai-nilai tertentu. Hal yang membuat seseorang cocok satu dengan yang lainnya lebih dikarenakan oleh faktor memiliki nilai-nilai yang sama.

  • Darimana “Values” dipelajari ? 

Values dipelajari dengan cara mengamati perilaku orang lain, mendengar cerita yang berulang-ulang tentang nilai tertentu, mengikuti perilaku seseorang. .

  • Values dapat berubah

Contoh, menanamkan nilai mencontek itu salah. Ketika SD, kita tidak berani mencontek. Ketika SMP, beberapa teman mencontek dan tidak ada hukuman. Ketika SMA, banyak teman yang mencontek, nilai mencontek salah menjadi berubah.

  • Hubungan values dan goal setting

Menurut Milton Rokeach, dalam menentukan goal setting atau target pribadi, ada dua penggolongan values :

1. Instrumental values : Bagaimana cara untuk mencapai target yang kita inginkan, misalkan jujur, inisiatif, bertanggung jawab, berani, suka menolong, harus masuk akal.

2. Terminal Values : Apa yang menjadi target kita atau kondisi apa yang ingin kita rasakan bila target kita tercapai, misalnya kekayaan, merasa berhasil, menjadi lebih bijak, mendapatkan kedamaian.

  • Petunjuk menggunakan “Values” untuk meningkatkan hubungan interpersonal 

1. Pertimbangkan bagaimana Anda ingin diperlakukan oleh orang lain dan lakukan hal tersebut.

Contohnya, Anda ingin diperlakukan sopan oleh orang di sekitar Anda, berarti Anda pun harus bersikap sopan.

2. Upayakan untuk selalu melakukan refleksi diri untuk mengetahui nilai-nilai apa yang penting bagi Anda.

3. Dalam kehidupan sehari-hari, “values” yang kita miliki bisa saling bertentangan sehingga sering terjadi konflik internal.

Contohnya, bila kita melihat teman kmembolos. Untuk kebaikan dia, saya harus menegur teman agar tidak membolos, tapi kalau ditegur takutnya teman marah atau kita sok jadi anak baik. Values yang paling kuat yang akan membuat kita mengambil keputusan maupun tindakan, karena bila kita tidak mengikutinya kita akan menjalani hidup atau pikiran yang tidak tenang.

Sumber :

Buku CB : Self Development (CB 412)

Bina Nusantara University

Advertisements

2 thoughts on “Character Building – Identifying My Potentials

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s