character-building

Character Building – Increasing Empathy


A. Pengertian Empati

Empati punya tiga arti : tahu apa yang dirasakan orang lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan memberikan respons yang tepat terhadap emosi orang lain.

Simpati memiliki arti kita prihatin dengan kondisi orang lain yang mengalami masalah, tetapi tidak benar-benar memikirkan bagaimana jalan keluar dari permasalahan tersebut. Tidak merasa ikut terlibat dalam kondisi tersebut.

  • Sosial Intelligence mencakup 2 kemampuan :

1. Social Awareness -> menyadari apa yang sedang dirasakan orang lain.

terdiri dari :

  1. Primal empathy : kemampuan untuk merasa bersama dengan orang lain,mampu merasakan sinyal-sinyal non verbal.
  2. Attunement : kemampuan untuk mendengarkan dengan perhatian penuh, fokus paada orang yang berbicara dengan kita.
  3. Empathic accuracy : kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan dan diinginkan orang lain.
  4. Social cognition : pengetahuan tentang cara-cara bersosialisasi (etiket).

2.  Social facility ->membawakan diri secara tepat dalam berinteraksi dengan orang lain.

terdiri dari :

  1. Synchrony : kemampuan untuk berinteraksi dengan tepat / sinkron pada tingkat non verbal.
  2. Self presentation : kemampuan untuk menampilkan diri dengan efektif.
  3. Influence : kemampuan untuk mempengaruhi orang lain.
  4. Concern : kemampuan untuk menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan orang lain dan bertindak dengan tepat.

B. Becoming a Good Observer 

Agar dapat melakukan komunikasi dengan efektif, ada 3 elemen komunikasi tatap muka yang perlu diperhatikan :

– 7% komunikasi adalah kata-kata.

– 38% nada / tone dalam berbicara.

– 55% bahasa tubuh.

C. Becoming a Good Listener 

Kegiatan mendengarkan terbagi atas tiga :

1. Passive listening

# Terjadi ketika seseorang hanya mendengarkan tanpa upaya untuk memproses atau membiarkan umpan balik terhadap apa yang disampaikan.

# Misalnya ketika duduk di bus, kemudian secara sayup-sayup terdengar percakapan orang yang duduk di depan kita.

2. Attentive listening

# Tindakan mendengarkan karena adanya minat terhadap apa yang dibicarakan, tapi kita tidak menanyakan apa yang sesungguhnya dimaksud oleh pembicara.

#Misalnya mendengar percakapann antar teman, tapi kita tidak itu terlibat dalam pembicaraan tersebut.

3. Active or empathetic listening 

# Tindakan mendengarkan ini butuh kerja keras dari  si pendengar. Terjadi komunikasi 2 arah yang melibatkan adanya ketertarikan, klarifikasi, dan pengolahan pesan.

#prinsip 70/30 artinya menggunakan 70 % untuk mendengarkan dan 30 % untuk berbicara.

D. Pentingnya menjadi active listener 

  • Hambatan untuk effective listening 
  1. Tidak tertarik pada apa yang disampaikan
  2. Melamun atau memikirkan hal lain saat mendengarkan.
  3. Terganggu bunyi lain seperti telepon.
  4. Lebih terpaku pada perilaku atau penampilan pembicara atau cara berbicara dari si pembicara  daripada isi pesannya.
  5. Memikirkan hal lain yang berhubungan dengan diri kita dibandingkan apa yang disampaikan oleh pembicara
  • Strategi menjadi pendengar yang baik 
  1. Tunjukkan minat dan ketulusan dalam mendengarkan.
  2. Tanyakan bila Anda tidak memahaminya.
  3. Hindari adanya distraksi / gangguan.
  4. Lakukan kontak mata.
  5. Hindari menginterupsi.
  6. Baca pesan verbal maupun nonverbal.
  7. Tunjukkan empati.
  8. Paraphrase untuk mengoreksi kesalahan dalam mengartikan, ulangi lagi pesan yang dikatakan. Paraphrase -> menekankan kembali kata-kata yang penting.
  9. Evaluasi pesan yang disampaikan setelah mendengarkan seluruh fakta.
  10. Konsentrasi pada pesan sebagaimana pada pembicara.
  11. Berikan umpan balik untuk mengecek akurasi, ungkapkan sudut pandang Anda, lakukan interaksi yang lebih terbuka.
  12. Dengarkan dengan seluruh tubuh.
  13. Don’t talk so much.

E. tantangan menjadi pendengar yang baik

Tantangan di masa depan yang penuh dengan berbagai gadget.. Sangat jarang orang yang benar-benar bisa menjadi pendengar yang baik. Mereka lebih suka berkomunikasi tertulis lewat chatting online atau pesan singkat. Kita memang tak bisa berharap dari porang lain karena kita tidak bisa mengubah mereka. Tapi, kita bisa mengubah diri kita sendiri. Siapa tahu dengan melihat contoh kita sebagai pendengar yang baik, mereka pun dapat terinspirasi untuk menjadi pendengar yang baik.

Sumber :

Buku CB : Self Development (CB 412)

Bina Nusantara University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s