img_1551

Sesama pendiam bercakap


Gelap berganti terang dan angin pun mulai sepoi-sepoi. Pepohonan akhirnya mulai melambai ke arah Xihan. Di sisi kiri taman, ada sebuah bunga kamboja dengan kelopak yang berwarna merah muda. Terlintas di pikiran Xihan tentang betapa gigihnya dia menjalani magang. Xihan lelah setelah berjuang demi skripsi. Ketika itu, burung-burung pun bernyanyi dan suara itu hanya didengar oleh dedaunan yang mendarat di bahu Xihan.

“Apa yang akan kulakukan hari ini?” Kata Xihan dalam hati. Suara notifikasi smartphone tiba-tiba berbunyi yang membuat Xihan kaget sejenak. “Oh, ternyata hanya aplikasi webtoon. Tidak menarik. Eh, ada whatsapp juga. Wah, teman-teman dalam group yang nge-chat Xihan.” Group tersebut hanya berisikan Xihan, Ando, dan Yurry. Mereka adalah sahabat Xihan sejak SMA dan mereka telah berpacaran. Bagaimana dengan Xihan? Di situlah persoalannya.

“Hei, kalian hari nih ke mana?” Kata Xihan di dalam whatsapp. “Tak ke mana-mana. Kamu mau jalan, Han?” Balas Yurry. “Yuk, ke mana aja juga boleh. Mau nonton film atau makan-makan? Aku yang bayar deh salah satunya, kalian kan sudah lulus sidang hehehe😀.” Ando pun membalas chat group,”Jam berapa? Saya hari nih juga tidak ngapa-ngapain sih.” Xihan pun lega karena akhirnya tidak bosan di rumah. “Jam 11 aja deh di Shibuya Mall.” Mereka pun akhirnya setuju.

Tak terasa sudah ribuan menit telah aku menunggu, mereka pun akhirnya datang sambil melafalkan namaku. Memberikan harapan untuk mengingat kenangan masa lalu walau hanya satu detik. “Hei, mau nonton film zootopia kah? Dengar-dengar dari orang sih filmnya bagus dan lucu.” Tanya Ando. “Boleh juga itu. Saya sih setuju saja hehehe.” Sambil memasukkan smartphone ke dalam saku. Waktu demi waktu berlalu dan akhirnya film tersebut selesai jam 2 siang. Kami akhirnya makan di restoran lantai underground mall. “Han, kamu tidak cari pasangan? Sudah hampir lulus dan dapat gelar S1 loh. Nanti kalau masuk dunia kerja bakal susah loh cari pasangan.” Tanya Yurry sambil senyum. Xihan pun berpikir sejenak. Banyak hal yang Xihan pikirkan. Teman yang sudah lulus sidang sementara aku masih menunggu jadwal, apa impian Xihan di masa depan. Semua itu adalah permasalahan milik dia. Dari dulu Han tidak pernah memikirkan tentang setelah lulus dan wisuda, dia akan ambil pekerjaan apa. Han selalu menganggap bahwa masa depannya di ambang keabu-abuan. Hobi yang  dia jalani sekarang adalah blogging. Xihan juga tidak terlalu menyukai bermain game sejak awal perkuliahan. Hanya dengan hitungan jari saja, dia dapat menghitung rentang waktu bermain game bahkan playstation-nya sekarang hampir satu tahun tidak pernah dinyalakan.  “Iya, temannya Yurry banyak tuh, kamu kenalan aja sama satu orang tuh namanya Fifi.” Kata Ando sambil mengaduk minuman miliknya.

“Sebenarnya sih aku tidak ahli dalam hal pendekatan hahaha. Akibat keseringan coding sih di depan laptop.😀 Lagian Aku juga kaku orangnya. Kalian bantu lah hehehe. :-)” Xihan melihat jam lalu melihat sekitar dia. “Kamu kemarin ada lihat orangnya kan seperti apa, Han? Lumayan kan dia? Fifi itu orangnya pendiam loh kalau sama cowok. Jadi bagaimana itu?” Tanya Yurry kepada Xihan. Xihan pun tidak masalah dan ingin mencoba berkenalan dengan Fifi dulu. Akhirnya Yurry menanyakan kepada Fifi apakah boleh memberikan kontaknya kepada Xihan dan ternyata hasilnya boleh. Setelah selesai makan siang, mereka pun akhirnya berpisah dan pulang.

Mentari yang bersinar cerah telah bergerak ke arah barat. Xihan yang mengendarai motor pun hanya terfokus pada jalanan yang dikepung oleh banyaknya kendaraan. Sinar mentari memeluk dia saat pulang ke rumah. Matahari mulai tertidur saat senja mulai datang. “Nih, kontaknya. Add aja” Kata Yurry di whatsapp. “Ngobrol ke dia sekarang kah? hahaha pertanyaan anak polos.” Kata Xihan sambil ketawa puas. “Wah sialan haha iya lah. Kenalkan dirilah, dia pendiam juga sama cowok, Han.” Balas Yurry. “Saya juga tipe pendiam dalam hal percakapan bagian awal, teman-teman. Parah ini, cowok pendiam melakukan pendekatan ke cewek pendiam bagaimana jadinya coba? Aku dah pernah tuangin ke dalam blog soal begitu.” Kata-kata Xihan akhirnya tertuang di dalam group whatsapp-nya. “Coba aja dulu. Berusahalah Han. Hehehe :D” Ando hanya membalas percakapan Xihan begitu saja.

Kebingungan, kekhawatiran telah menyelimuti hati Xihan. “Hai, temannya Yurry ya?” Xihan mencoba melakukan obrolan dengan Fifi. Tiba-tiba suara notifikasi pun berbunyi dan dia hanya menjawab iya tanpa menanyakan sedikitpun tentang Xihan. Detik demi detik pun berlalu, Xihan telah berusaha membuat Fifi terpancing untuk menanyakan sesuatu  kepada Xihan. “Ini namanya kurang beruntung. Baru pertama kali, aku mendekati cewek dan hasilnya seperti wawancara saja. Malas sudah buat chat dia lagi.” Xihan pun mengeluh dan berbaring di atas kasur. Xihan akhirnya mengeluh kepada teman-temannya. “Sudah lah teman, aku menyerah deh. Aku merasakan percakapan dengan dia seperti wawancara. Benar-benar unik.” Keluhan Xihan akhirnya terjun ke obrolan dalam group. “Jangan menyerah, Han. Sama-sama pendiam juga sih.” Balas Ando dalam group. “Aku menyerah saja deh. Lelah hari ini, putus asa sudah, aku mau tidur dulu. Dah!” Itulah percakapan terakhir yang Xihan ketik di dalam whatsapp. Xihan akhirnya tertidur di bawah bulan yang terbangun saat malam telah datang. Jangkrik pun mulai bernyanyi ria yang membuat dunia tidak menjadi sunyi.


END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s