Menggali Ingala

Liburan Natal, Daniel Ingin Pulang ke Padang


Pada hari minggu, 20 Desember 2009 tepatnya siang hari, Daniel sedang menulis buku harian di kamar tidurnya. Saat menulis buku harian, tiba-tiba dia teringat peristiwa masa lalunya di Padang. Teringat hal itu, maka Daniel memutuskan untuk pulang ke Padang pada tanggal 24 Desember 2009, tetapi dia harus mengajukan rencananya terlebih dahulu kepada kakaknya. Daniel berharap kakaknya menyetujui rencana dia sehingga dia diperbolehkan pulang ke Padang.

Daniel mencari kakaknya di teras dan kakaknya berada di situ kemudian dia bertanya kepadanya,”Kak, Daniel ingin pulang ke Padang pada tanggal 24 Desember. Apakah kakak memperbolehkan adik pulang?” Kak Ivon berkata,”Padang mana? Padang Sidempuan, padang pasir, padang rumput, atau Padang ibu kota Sumatera Barat?” Daniel menjawab,”Padang ibu kota Sumatera Barat, kak. Tempat Daniel lahir, kak Ivon. Kakak ini bercanda terus.” Kak Ivon bertanya lagi,”Tanggal 24 Desember tahun 2010 ya? Masih lama dik. Sekarang masih tahun 2009.” Daniel pun menjawab,”Bukan tahun 2010 Daniel ingin pulang ke Padang, kak tapi tahun ini,tahun 2009. Apakah kakak mengizinkan?” Kak Ivon memikirkan hal itu sambil menyelesaikan pekerjaannya. Setelah 5 menit menunggu jawaban kakaknya, Daniel mulai bosan. Ketika Daniel ingin bertanya sekali lagi, kak Ivon berkata,”Kakak tidak mengizinkan kamu pulang ke Padang.” Seketika itu juga Daniel pun terkejut dan sedih lalu dia pergi ke kamarnya dengan wajah yang tidak seperti biasa.

Di dalam kamar, Daniel merasa bingung bahwa kenapa kak Ivon tidak memperbolehkan dia pulang ke Padang. Daniel tidak dapat berbuat apa-apa setelah mendengar perkataan kakaknya kemudian dia berpikir sejenak, tetapi hal itu tidak membawakan hasil. Daniel berkata dalam hati, ”Lebih baik aku mencoba untuk bertanya sekali lagi hal itu kepada kakak. Barangkali pikiran kakak berubah lagi.”

Menjelang sore, Daniel mencoba bertanya kepada kakaknya. “Kak, bolehkah adik pulang ke Padang?” tanya Daniel kepada kakak. Kak Ivon pun menjawab,”Tidak boleh. Kamu sendiri tahu bahwa Padang masih kacau sesudah gempa kemarin ini. Apalagi rumah di Padang sedang renovasi. Hal tersebut membutuhkan biaya. Kita harus menghemat uang mulai dari sekarang. Tidak boleh boros. Sekarang kamu sudah mengerti mengapa kakak tidak mengizinkan kamu ke Padang?” Daniel menjawab dengan tidak semangat. Dia sadar dan kecewa karena tidak dapat pulang ke Padang. Harapan Daniel untuk pulang ke Padang dan bertemu dengan kawan lama sudah hilang.

Pada malam hari, Daniel sedang mendengar musik. Pada saat itu, dia mendapat akal. ”Barangkali ayah dan ibu memperbolehkan aku untuk pulang ke Padang sehingga aku bisa bertemu dengan teman lamaku. Mungkin aku harus bertanya kepada ibuku. Lebih baik aku telepon sekarang”, kata Daniel dalam hati. Daniel pun menelepon ibunya. “Halo Bu, apa kabar?”, tanya Daniel. Ibunya menjawab, ”Baik. Ada apa nak?” Daniel pun memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Setelah Daniel memberitahukan, ibunya menjawab, ”Memang rumah sedang direnovasi dan membutuhkan biaya, tetapi lihat saja apa yang akan terjadi besok. Ayahmu mengatakan bahwa semoga nasibmu beruntung di kemudian hari.” Daniel pun berkata, ”terima kasih, Bu.” Daniel pun mengakhiri pembicaraan dengan ibunya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan ibunya dan berpikir ada sesuatu yang tidak dia ketahui dan sesuatu itu hanya diketahui oleh kak Ivon dan orangtuaku.

Keesokan harinya, Kak Ivon memanggil Daniel karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Kak Ivon bertanya, ”Kamu menelpon ayah dan ibu tercinta kemarin malam. Benar?” Daniel pun terkejut karena kakaknya mengetahui hal itu. Dia bingung karena dia menelepon tanpa diketahui kakaknya kemarin malam. Daniel berkata, ”Dari mana kakak tahu?” Kak Ivon hanya tersenyum dan berkata, ”Ada sesuatu yang kakak ingin kasih tahu ke kamu.” Kak Ivon memberikan sebuah amplop kepada Daniel dan Daniel pun menjadi bingung karena kak Ivon tiba-tiba memberikan amplop kepadanya kemudian Daniel teringat akan pembicaraan dengan ibunya kemarin malam. “Apakah ini maksud dari perkataan ibu dan ayah?”, kata Daniel dalam hati. Daniel pun membuka amplop dengan cepat dan ternyata isinya adalah sebuah tiket pesawat. Daniel pun akhirnya senang dan sadar bahwa itulah yang ayah dan ibu maksudkan. Daniel berkata kepada kakaknya, ”Terima kasih, kak Ivon. Ini benar-benar diluar dugaan. Daniel masih bingung kenapa kakak memberikan aku tiket pesawat padahal sebelumnya kakak bilang kakak tidak memperbolehkan Daniel pulang.” Kak Ivon memberitahukan yang sebenarnya. ”Jadi kak Ivon juga ingin pulang ke Padang dan sengaja membuat drama seperti itu?”, tanya Daniel. Kak Ivon pun tersenyum puas.

Pada malam harinya, di kamar Daniel yang tidak terlalu sempit, Daniel merasa senang dan bahagia karena kakaknya memperbolehkan dia pulang ke Padang. Daniel sekarang sudah mengerti tentang pembicaraaan dengan ibunya kemarin malam dan kenapa kak Ivon membuat drama yang membuatnya sedih dan kecewa pada awalnya. Akhirnya, Daniel beserta kakaknya pulang bersama ke Padang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s