Stiker leonard LINE

Pengalaman Menarik Selama Live In


Enam tahun yang lalu yaitu tahun 2010, sekolahku mengadakan kegiatan Live In ke Yogyakarta. Seluruh siswa wajib ikut dalam kegiatan ini. Selama kegiatan live in berlangsung, saya mempunyai beberapa pengalaman yang menarik. Pengalaman yang pertama yaitu pada saat saya dan Hansen pergi mengambil singkong di sawah ketika hari masih siang. Waktu itu adalah musim panen. Kami pergi ke sawah yang letaknya cukup jauh dari rumah dengan jalan kaki. Udara di sawah itu sangat segar karena warga yang melewati sawah hanya sedikit menggunakan sarana transportasi seperti kendaraan bermotor dan mobil, mereka banyak menggunakan kendaraan beroda dua seperti sepeda. Kami merasa ingin tinggal lebih lama lagi tapi live in hanya berlangsung 3 hari. Oleh karena itu, kami memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di desa itu.

Dalam perjalanan, kami menyapa petani yang sedang panen. Sesudah sampai pada tempat yang ditanam tanaman singkong, kami berisirahat sebentar kemudian mengambil singkong yang berada di dalam tanah dengan menarik batangnya agar keluar dari tanah humus. Jumlah singkong yang kami dapat sangat banyak. Selain itu, ukurannya ada yang besar, ada yang menengah, ada yang panjang serta ada yang pendek lalu kami memasukan singkong tersebut ke dalam karung agar dapat dibawa pulang ke rumah induk semang kemudian pemilik sawah memberikan informasi tentang tanaman singkong kepada kami.

Ternyata tanaman singkong memiliki banyak kegunaan. Daun singkong digunakan untuk memberi makan hewan ternak yaitu kambing, batangnya bisa ditanam kembali, dan singkong untuk dimakan oleh manusia. Cara menanam singkong sangatlah mudah. Setelah batang singkong dicabut dari tanah humus, batang singkong diletakkan dekat tanaman singkong lainnya. Hal itu dimaksudkan supaya pada musim hujan, air hujan membasahi akar-akar singkong. Batang tersebut diletakkan dari awal musim hujan sampai musim kemarau. Memasuki musim kemarau, batangnya mulai ditanam kembali. Begitulah cara menanam dan memanen tanaman singkong.

Setelah itu, kami kembali lagi ke rumah dengan jalan kaki. Pada malam harinya, kami makan singkong yang telah direbus. Rasanya sangat enak hingga kami makan singkong terlalu banyak. Pada saat pulang ke Jakarta, ibu memberikan kami sekotak singkong untuk makan dalam perjalanan. Saya merasa senang sekali karena singkong yang dibuat ibu rasanya lezat.

Pengalaman saya yang kedua adalah ketika saya mencoba minum teh rosella. Teh rosella diperkenalkan oleh Pak Kamdi. Teh tersebut memiliki manfaat yaitu menurunkan darah tinggi. Teh tersebut harus dikasih gula karena jika tidak diberi gula, rasanya asam. Cara membuat teh rosellla sangat mudah. Bunga rosella dicuci dengan air bersih kemudian diletakkan di dalam gelas lalu diberi air hangat. Setelah itu, tunggu beberapa saat kemudian diberi gula lalu diaduk. Biji rosella bisa ditanam lagi sementara bunganya digunakan untuk membuat teh.

Selain itu, yang saya sukai adalah pekerjaaan induk semang saya. Pekerjaannya adalah berkebun dan bertani. Saya dapat merasakan bagaimana caranya berkebun. Ternyata, berkebun itu tidaklah susah. Hanya menanam, membersihkan rumput liar, mengambil hasilnya, dan lain-lain. Sementara, bertani cukup susah karena kegiatannya lebih banyak daripada berkebun seperti menanam, membajak sawah, memanen, memantau tanaman yang ditanami, dan lain-lain. Dalam melakukan kegiatan berkebun dan bertani, kita harus mempunyai niat. Jika kita mempunyai niat untuk berkebun dan bertani, maka hasil pekerjaan tersebut pasti memuaskan dan membuat kita senang. Itulah hasil dari kegiatan yang dapat saya petik.

Pengalaman yang paling saya sukai adalah ketika menggunakan alat penggiling padi yang bernama erek. Saat itu kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Pada waktu itu, saya melihat warga yang berada dekat rumah sedang menggiling padi kemudian saya meminta izin kepada induk semang untuk melihat bagaimana cara menggiling padi. Saya pun diizinkan dan saya merasa senang. Cara menggiling padi  sangat mudah. Pertama-tama, kita mengambil padi yang akan digiling. Selanjutnya, kita letakkan bagian yang akan digiling ke dalam sebuah erek. Di dalam erek tersebut terdapat beberapa paku yang berguna menggiling padi. Setelah itu, kita genjot sebuah alat yang terdapat di samping erek sebanyak berkali-kali. Sesudah padi tersebut digiling, kita mengambil lagi padi yang lain. Begitulah seterusnya. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang hingga tanaman padi tersebut habis dan hasilnya adalah padi yang telah digiling oleh erek. Saya merasa senang karena saya baru mengetahui alat itu sebab saya tidak pernah menemukan alat semacam itu di kota. Selain itu, erek tersebut bentuknya unik. Bentuknya seperti balok dengan ada tempat genjot di sampingnya. Bagian dalam balok tersebut terdapat semacam alat yang terdiri dari banyak paku.

Selain itu masih ada pengalaman yang menarik bagi saya selama live in yaitu ketika saya berada di desa. Pada waktu itu, saya merasakan perbedaan yang sangat besar antara desa dengan kota dalam diri saya. Di kota, masyarakat banyak menggunakan sarana transportasi seperti mobil, motor sedangkan di desa, warga lebih banyak menggunakan sepeda daripada motor dan mobil bahkan lebih banyak warga yang berjalan kaki. Di kota yang ramai lebih banyak transportasi sehingga udara yang ada pastinya telah tercemar. Di desa, kami merasa sangat beda. Sedikitnya transportasi menyebabkan udara tidak tercemar sehingga setiap hari kami merasakan udara yang segar, angin yang sepoi-sepoi, dan lain-lain. Di kota, kami lebih banyak melihat gedung-gedung yang tinggi sedangkan di desa, kami lebih banyak melihat sawah, pohon-pohon, sungai, kebun, tempat pertambangan batu, gunung-gunung, dan lain-lain. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada fasilitasnya. Fasilitas di kota lebih memadai sedangkan fasilitas di desa hanya mencukupi buat kehidupan. Dari segi sosial, desa lebih menonjol daripada perkotaan. Masyarakat di desa lebih mengutamakan kerjasama dan hidup bermasyarakat sedangkan masyarakat di kota kurang mengutamakan dua hal tersebut namun ada juga yang mengutamakan hal itu tetapi jumlahnya hanya sedikit. Inilah pengalaman yang paling saya sukai selama live in.

Pengalaman saya yang lain selama live in adalah ketika saya hidup bersama keluarga induk semang. Cara hidup mereka sangat sederhana tetapi kebersamaan mereka lebih erat. Mereka makan apa adanya tetapi rasa makanan tersebut enak dan lezat. Saya sangat suka masakan induk semang saya.hal yang dapat saya pelajari dari pengalaman tersebut adalah hidup kebersamaan dan belajar tentang hidup sederhana. Hidup sederhana itu sangat menyenangkan bagi saya. Kerjasama antar warga desa sangat baik sehingga dapat memupuk rasa persaudaraan diantara sesama warga desa. cara hidup mereka salah satunya juga tolong menolong antar sesama yang saling membutuhkan pertolongan. Situasi masyarakat perdesaan sangat makmur, damai sejahtera. Saya sangat suka terhadap situasi di desa tersebut. Mereka selalu melakukan kegiatan agraris setiap hari sehingga terciptanya sebuah budaya yaitu budaya agraris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s