3044755

Resensi Novel Pertemuan Dua Hati


Novel Pertemuan Dua Hati

Karya Nh.Dini

 

Judul buku        : Pertemuan Dua Hati

Penulis                : Nh.Dini

Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : 2003

Tebal buku        : 85 halaman

Novel Pertemuan Dua Hati adalah novel  karya Nurhayati Srihardini atau yang lebih dikenal dengan nama Nh.Dini. Novel ini mempunyai tema tentang pendidikan.  Novel ini mempunyai 2 tokoh penting yaitu Bu Suci dan Waskito serta tokoh pembantu yaitu suami Bu Suci, 3 orang anaknya, uwak, kepala sekolah, nenek Waskito, dan bude Waskito. Setting dalam novel ini ada 3 tempat yaitu di sekolah, rumah Bu Suci, dan di rumah nenek Waskito. Alur dalam novel ini adalah maju dengan sudut pandang adalah orang pertama sebagai pelaku utama.

Novel ini menceritakan tentang Bu Suci yang mengajar di SD hampir 10 tahun di Purwodadi. Namun , Bu Suci pindah ke Semarang karena suaminya dipindahtugaskan. Bukan karena suaminya minta dipindahkan,melainkan atasan dia. Di Semarang, Bu Suci juga menjadi guru SD. Bu Suci menggantikan guru yang mendapat kecelakaan dan beliau juga mengajar kelas 3 sebanyak 2 buah. Pada hari pertama sampai hari ketiga, kegiatan Bu Suci berjalan dengan lancar dan urusan rumah tangganya tak menemui masalah. Namun, pada hari keempat, Bu Suci telah mempunyai seorang murid yang bernama Waskito belum juga masuk kelas. Dari murid-muridnya, dia ketahui bahwa Waskito dikenal sebagai murid yang kasar, kurang ajar, nakal, dan sulit diatur.

Kemudian, Bu Suci mengirimkan surat kepada nenek Waskito. Ketika sore hari, Bu Suci mengunjungi rumah nenek Waskito. Akhirnya, dia mendapat informasi mengenai Waskito. Setelah mendapat semua informasi, Bu Suci akhirnya mengerti perasaan Waskito.

Pada suatu hari, Waskito mengamuk pada saat jam istirahat.guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari ke sekolah tapi Bu Suci meminta waktu 1 bulan untuk memperbaiki kelakuan Waskito kepada kepala sekolah dan kepala sekolah mengabulkan permohonannya. Sejak saat itu, Bu Suci sering berada di kelas dan mengobrol dengan Waskito. Setelah 1 bulan, sifat Waskito telah berubah. Nilai pada rapor dia berisi angka-angka normal. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Kemudian, Budenya dating ke sekolah untuk berterima kasih kepada kepala sekolah, guru-guru terutama Bu Suci yang telah memperbaiki sifat Waskito.

 

Ada beberapa amanat yang dapat kita petik dari novel ini. Pertama, Kita harus sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup. Yang kedua, jangan pernah menganggap remeh seseorang. Yang ketiga, jangan memandang hanya dari sisi buruknya saja.

Novel ini mempunyai kelebihan. Kelebihannya adalah ceritanya menarik dan membuat seseorang jadi terkesan dan terharu, covernya bagus.

Novel ini sangat bagus dibaca oleh murid, anak-anak, dan masyarakat karena cerita dari awal hingga akhir sangat bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s