Menggali Ingala

Tragedi Tak Terlupakan


Menjelang sore di hari Rabu, 30 September 2009, seperti biasanya saya mulai belajar dikarenakan besok ada ujian bulanan untuk mata pelajaran Geografi dan Bahasa Indonesia. Ibu saya berkata, “ Edward, kamu mandi, makan, setelah itu baru belajar.” Saya pun menurutinya. Setelah makan, saya pun mulai belajar. Ibu saya sedang berada di dapur. Tiba-tiba terjadi goncangan yang awalnya saya anggap gempa kecil yang memang akhir-akhir ini sering terjadi. Ternyata, goncangannya sangat kuat dan berlangsung lama. Saya pun berlari keluar untuk membuka pintu, ibu saya pun berteriak, “Edward, kamu dimana? Buka pintu depan dan segera lari keluar.” Saya pun menjawab “Ya Bu, saya sedang berusaha untuk membuka pintu ini, tetapi sangat susah karena goncangan yang kuat.” Tidak lama kemudian akhirnya pintu pun berhasil dibuka. “Bu, pintu sudah terbuka, ayo segera keluar.” Saya dan ibu pun akhirnya lari keluar rumah.

Goncangan berlangsung cukup lama. Lima belas menit setelah gempa berhenti, Ibu saya baru ingat akan surat-surat berharga yang masih berada didalam rumah. “Edward, ayo kita masuk kedalam untuk mengambil surat-surat berharga, kuatir nantinya akan ada gempa susulan.” Saya pun menemani ibu saya. Betapa terkejutnya saat saya dan ibu saya masuk kedalam rumah. Hal yang tak pernah kami duga. Semua isi rumah tidak hanya berantakan, tetapi juga dinding tembok pemisah dapur dan ruang keluarga roboh. Begitu juga dinding tembok pemisah kamar mandi dengan ruang makan pun roboh. Akibatnya, meja makan pun terhimpit tembok yang roboh. Kuatir akan ada gempa susulan saya dan ibu saya segera mengambil surat berharga dan senter dikarenakan hari sudah mulai menjelang malam.

Kebetulan hari ini ayah saya sedang dinas keluar kota yaitu ke Bukittinggi. Gempa juga terasa di Bukittinggi. Ayah pun bergegas untuk pulang ke Padang dimana saat itu ayah mendengar berita bahwa gempa sangat dahsyat menimpa kota Padang. Apalagi ditambah dengan kondisi ayah yang untuk kedua kali tidak bisa menghubungi saya dan ibu dikarenakan jaringan telekomunikasi terganggu. Setelah gempa berhenti menggoncang Padang, giliran hujan pun menangis. Saya dan ibu tidak berani untuk masuk ke rumah. Akhirnya, kami berdua berteduh di teras rumah sampai ayah tiba di rumah.

Setibanya ayah di rumah, kami pun mencoba masuk kedalam rumah yang sangat berantakan. Dikarenakan hujan yang belum berhenti, udara sangat dingin dan listrik padam, ayah pun mengambilkan baju hangat dan makanan kecil untuk bisa dimakan. Ayah pun berkata kepada saya, “Hari sudah larut malam, kamu sebaiknya tidur di sofa ini.” Saya pun tidur karena sudah mengantuk.

Menjelang jam 2 pagi, gempa susulan kembali menggocang kota Padang. Ayah membangunkan saya dan kami segera lari keluar rumah dengan menggunakan payung dikarenakan diluar masih turun hujan. Gempa susulan hanya berlangsung sesaat. Saya pun kembali tidur.

Keesokan paginya saya membantu ayah saya untuk membersihkan ruang tamu dari pecahan kaca dan pecahan-pecahan tembok. Suasana diluar masih hujan deras yang belum berhenti sejak kemarin malam. Ayah saya berniat untuk melihat kondisi lantai 2 rumah saya. Saya pun berkata, “ Ayah kalau mau naik ke lantai 2, saya akan menemani ayah.” Kami pun naik ke lantai 2. kondisi tidak begitu parah dibandingkan di lantai 1. Walaupun ada beberapa barang elektronik yang jatuh ke lantai. Kerusakan terparah ada di lantai 1 ditambah kondisi tangga ke lantai 2 yang sudah miring. Untuk menghindari korsleting, ayah pun mematikan semua aliran listrik yang ada.

Melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk segera pulih kembali seperti ketersediaan air bersih, udara bersih, dan listrik, ayah saya diminta paman untuk sementara ke Jakarta. Akhirnya, di hari ketiga setelah gempa, saya dan orang tua berangkat ke Jakarta. Selama seminggu di Jakarta, paman meminta agar saya bersekolah di Jakarta karena kondisi Padang yang belum bisa pulih dengan segera. Awalnya ibu saya keberatan dikarenakan kuatir tidak ada yang menemani saya jika saya bersekolah di Jakarta. Paman saya pun berkata,” Edward sekolah disini dan tinggal bersama kakaknya. Tenang saja, tidak perlu kuatir. Saya juga akan menemaninya di waktu luang.” Akhirnya, ibu saya pun menyetujui saya untuk bersekolah disini. Sekolah yang mau menerima saya sebagai siswa baru di saat tahun pelajaran telah berlangsung adalah SMA Tarsisius II.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s